Kenapa Pejabat Negara Suka Menyenggol Guru?

Belum hilang kejengkelan guru-guru Indonesia karena disebut beban negara oleh Menteri Keuangan, yang belakangan ternyata diketahui pernyataan tersebut merupakan editan AI, muncul lagi komentar dari Menteri Agama yang lagi-lagi membuat guru-guru di Indonesia merasa jengkel. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa jangan jadi guru kalau mau kaya.

Meski pada akhirnya Menteri Nasaruddin Umar melakukan klarifikasi terkait pernyataannya tersebut, dan bahkan menyatakan akan menaikkan tunjangan untuk guru-guru Kemenag non-ASN dari 1,5 juta ke 2 juta, perlu digarisbawahi kenapa guru-guru selalu menjadi sasaran komentar pejabat-pejabat negara. 

Bukan rahasia lagi jika masalah guru terutama honorer ini seperti benang kusut. Mulai dari regulasi status guru sampai ke gaji yang dianggap sangat kurang. Belum lagi masalah internal lembaga kependidikan nasional yang selalu berganti-ganti tergantung siapa yang sedang berada di dalamnya.

Organisasi-organisasi yang menaungi guru juga seolah kurang greget ketika ada hal-hal yang dirasa kurang mapan bagi guru. Hasilnya, kebijakan apapun guru tidak pernah bereaksi seperti halnya buruh yang kompak. Guru hanya menggerutu di belakang jika ada kebijakan yang merugikan, berbeda dengan buruh yang akan langsung aksi jika ada kebijakan merugikan terkait dengan profesi mereka.

Sikap diam atau pasif dari guru atau organisasi guru itulah yang mungkin membuat pejabat-pejabat negara kemudian mengeluarkan pernyataan atau kebijakan yang merugikan guru. Di Indonesia, status guru dibedakan menjadi beberapa misalnya ASN, Non-ASN, dan Honorer Yayasan. ASN pun terbagi menjadi PNS dan PPPK (dibedakan lagi menjadi Fulltime dan Part Time). Penggolongan ini menjadikan guru memiliki jarak satu sama lain.

Yang pasti, permasalahan pendidikan di Indonesia memang perlu penanganan khusus dan intensif baik untuk peserta didik ataupun untuk pendidiknya. Organisasi guru harus lebih kritis dalam melindungi hak-hak guru ataupun mengawal kebijakan pemerintah yang dirasa kurang pas untuk dunia pendidikan. 


No comments

Powered by Blogger.